Posuo dan Tradisi Polonga di Waborobo Buton: Warisan Budaya yang Tetap Lestari

  • Sep 17, 2024
  • Ridwan Amsyah ; Photo by TIAR
  • BUDAYA

Matapulu Info – Posuo, atau yang dikenal sebagai prosesi pingitan, merupakan salah satu tradisi turun temurun yang masih terjaga di jazirah Kepulauan Buton, termasuk di Kelurahan Waborobo, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau. Tradisi ini menjadi bagian penting dari perjalanan seorang gadis remaja (Kabua-bua) menuju dewasa (Kalambe), sebagai simbolisasi kemurnian dan kesucian diri.

Menurut sumber dari Wikipedia, Posuo adalah ritual adat yang dirancang untuk menguji dan menjaga kesucian seorang gadis. Selama prosesi Posuo, gadis tersebut akan menjalani isolasi di sebuah ruangan khusus selama empat hari empat malam, terpisah dari pengaruh dunia luar. Di dalam ruangan itu, gadis hanya diperbolehkan berinteraksi dengan Bhisa, seorang perempuan yang dipilih oleh pemangku adat untuk memberikan nasihat dan wejangan khusus selama masa pingitan.

Secara umum, prosesi Posuo berlangsung selama delapan hari delapan malam. Empat hari pertama dihabiskan dalam masa isolasi di ruangan tertutup, sementara empat hari berikutnya gadis tersebut keluar dari ruangan namun tetap berada di dalam rumah atau tempat pelaksanaan Posuo tanpa berinteraksi secara langsung dengan masyarakat luas.

Selama pelaksanaan prosesi ini, alunan gong dan gendang terus mengiringi sebagai bagian dari adat yang sakral. Pada akhir masa isolasi, setelah empat hari empat malam, gadis yang menjalani Posuo akan dikeluarkan dari ruangan khusus tersebut.

Ada keunikan tersendiri dalam pelaksanaan Posuo di Kelurahan Waborobo. Di hari ketiga saat prosesi Posuo berlangsung, masyarakat setempat juga melaksanakan tradisi Polonga, yang melambangkan solidaritas sosial di antara keluarga yang memiliki anak gadis.

Polonga adalah bentuk bantuan sukarela yang diberikan oleh keluarga yang memiliki anak gadis yang belum menjalani Posuo kepada gadis yang sedang dipingit. Bantuan ini dapat berupa makanan jadi seperti lapa-lapa (sejenis ketupat khas Buton) atau bahan makanan pokok. Bahkan, tidak jarang Polonga diberikan dalam bentuk uang tunai. Polonga ini nantinya dapat dikembalikan ketika anak gadis dari keluarga pemberi menjalani Posuo di masa mendatang.

La Amunu, seorang tokoh masyarakat Waborobo, menjelaskan bahwa Polonga adalah sumbangan sukarela dari orang tua yang memiliki anak gadis yang belum dipingit kepada yang sedang menjalani prosesi Posuo. ”Nanti, bantuan ini diganti saat anak gadis mereka sendiri dipingit," ujarnya dalam sebuah wawancara.

Selain makanan pokok dan uang, ada pula bentuk Polonga yang lebih unik, yang dikenal dengan sebutan Bunga Waho. Bunga Waho adalah kreasi dekoratif yang terbuat dari susunan makanan tradisional seperti kue-kue, dan di puncaknya sering diletakkan seekor ayam jantan sebagai simbol keberuntungan.

Prosesi Posuo ini biasanya diakhiri dengan tarian adat seperti Mangaru dan Linda, yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol bahwa ritual Posuo telah selesai dan gadis tersebut siap memasuki fase kehidupan dewasa.

Penyelenggaraan Posuo dan tradisi Polonga di Waborobo tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Buton, tetapi juga menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai wujud penghormatan terhadap nilai-nilai adat dan budaya leluhur.